Desa Mojojejer memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan desa-desa di sekitarnya, yaitu Desa Mojowarno, Mojowangi, dan Mojoduwur. Dahulu wilayah ini merupakan hutan lebat yang dikenal dengan nama Hutan Keracil, yang membentang hingga wilayah Mojoagung. Hutan tersebut dipenuhi oleh pohon mojo yang tumbuh subur dan menjadi ciri khas kawasan ini.
Berdasarkan catatan sejarah perkembangan umat Nasrani yang diterjemahkan oleh R. Hadi Wahjono, Desa Mojojejer diperkirakan berdiri pada sekitar tahun 1849–1850. Pendirian desa ini dipelopori oleh R.S. Sadrono, R. Singotruno, dan R. Joas, bersama rekan-rekannya, termasuk R. Semion, yang bekerja sama membuka hutan belantara untuk dijadikan permukiman. Dalam musyawarah para tokoh saat itu disepakati bahwa nama desa yang akan dibentuk harus diawali dengan kata "Mojo", sebagai penghormatan terhadap banyaknya pohon mojo yang tumbuh di kawasan tersebut.
Nama "Mojojejer" kemudian diberikan oleh Kepala Desa pertama, Raden Mangun Wedono, bersama para tokoh masyarakat. Nama tersebut memiliki makna "pepohonan mojo yang berjajar atau berderet", menggambarkan kondisi alam desa pada masa awal berdirinya.
Sejak awal pembentukannya, Desa Mojojejer berkembang menjadi desa yang terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Mojojejer, Dusun Pulorejo, dan Dusun Sanggararum. Dalam perjalanan pemerintahannya, desa ini telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, dimulai dari Raden Mangun Wedono sebagai kepala desa pertama hingga kepemimpinan yang terus berlanjut dalam upaya membangun dan memajukan Desa Mojojejer.
Desa Mojojejer memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan desa-desa di sekitarnya, yaitu Desa Mojowarno, Mojowangi, dan Mojoduwur. Dahulu wilayah ini merupakan hutan lebat yang dikenal dengan nama Hutan Keracil, yang membentang hingga wilayah Mojoagung. Hutan tersebut dipenuhi oleh pohon mojo yang tumbuh subur dan menjadi ciri khas kawasan ini.
Berdasarkan catatan sejarah perkembangan umat Nasrani yang diterjemahkan oleh R. Hadi Wahjono, Desa Mojojejer diperkirakan berdiri pada sekitar tahun 1849–1850. Pendirian desa ini dipelopori oleh R.S. Sadrono, R. Singotruno, dan R. Joas, bersama rekan-rekannya, termasuk R. Semion, yang bekerja sama membuka hutan belantara untuk dijadikan permukiman. Dalam musyawarah para tokoh saat itu disepakati bahwa nama desa yang akan dibentuk harus diawali dengan kata "Mojo", sebagai penghormatan terhadap banyaknya pohon mojo yang tumbuh di kawasan tersebut.
Nama "Mojojejer" kemudian diberikan oleh Kepala Desa pertama, Raden Mangun Wedono, bersama para tokoh masyarakat. Nama tersebut memiliki makna "pepohonan mojo yang berjajar atau berderet", menggambarkan kondisi alam desa pada masa awal berdirinya.
Sejak awal pembentukannya, Desa Mojojejer berkembang menjadi desa yang terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun Mojojejer, Dusun Pulorejo, dan Dusun Sanggararum. Dalam perjalanan pemerintahannya, desa ini telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, dimulai dari Raden Mangun Wedono sebagai kepala desa pertama hingga kepemimpinan yang terus berlanjut dalam upaya membangun dan memajukan Desa Mojojejer.